Kamis, 04 Agustus 2016

Akuntansi sektor publik

ORGANISASI SEKTOR PUBLIK
http://renoparay.blogspot.co.id/2013/07/pengertian-dan-ruang-lingkup-akuntansi.html

1. Ruang lingkup Akuntansi Sektor Publik
Ruang lingkup akuntansi sektor publik meliputi badan-badan pemerintahan (pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan unit-unit kerja pemerintah), organisasi sukarelawan, rumah sakit, perguruan tinggi dan universitas, yayasan, lembaga swadaya masyarakat, organisasi keagamaan, organisasi politik, dan sebagainya.

2. Kerangka Konseptual Akuntansi sector public

REGULASI KEUANGAN  AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK & KOMPARASI AKUNTANSI SEKTOR PUBLIC DAN SWASTA
1. Dasar hukum Keuangan publik ,Negara dan daerah
2. Regulasi Keuangan Akuntansi sector public di era Reformasi
3. Etika Pengelolaan Keuangan Publik
4. Kedudukan dan peran Pemerintah dalam Memperbaiki kualitas pelayan public
5. Membandingkan penilaian prestasi sector public dengan sector swasta secara kualitas maupun kwantitas
6. Pengendalian Sektor public dan swasta berkaitan dengan adanya manajemen control
7. peningkatan strategi pengembangan organisasi sekto publik

AKUNTANSI MANAJEMEN SEKTOR PUBLIC & SYSTEM PENGENDALIAN MANJEMEN SEKTOR PUBLIK
1. Akuntansi sebagai alat perencanaan  dan pengendalian Manajemen Publik
2. Proses perencanaan system Akuntansi Manj sector Publik
3. Peranan Akuntansi Manajemen dan Struktur  pengendalian Manajemen public sector public
4. Peranan Tipe Pengendalian Manajemen sector publik

PENGANGGARAN SEKTOR PUBLIC & TEHNIK AKUNTANSI KEUANGAN SECTOR PUBLIC
1. Konsep dan pengertian anggaran sector public & Anggaran tradisional
2. Mekanisme penyusunan anggaran public.Planning  Programming,and budgeting Sysytem (PPBS)
3. Teori Akuntansi sector publik
4. Perkembangan dan Standar Akuntansi Sektor publicdi Indonesia
5. Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP )
6. IPSAS ( Internasioanal Publik sector Accounting Standard ) IPSAS 1 s/d 8
7. Tehnik –tehnik Akuntansi Sektor publik                  

SISTEM PENGUKURAN KINERJA SEKTOR PUBLIC & ANALISA SISTEM INVESTASI SEKTOR PUBLIK
1. Informasi yang digunakan untuk mengukur kinerja organisasi publik
2. Pengembangan indicator Value for money
3. Peranan indicator kinerja dalam pengukuran kinerja
4. Penentuan kebutuhan investasi public dan kelayakan investasi
5. Faktor –faktor yang mempengaruhi investasi public serta tehnik dasar investasi

LAP KEUANGAN SEKTOR PUBLIK
1. Tujuan dan Fungsi Laporan keuangan Sektor publik
2. Pemakai Laporan keuangan Sektor Publik
3. Hak dan kebutuhan Pemakai laporan keuangan
4. Perbedaan laporan Keuangan Publik dan swasta
5. Luasnya pengungkapan yang diperlukan

VALUE FOR MONEY AUDIT & PROSES AUDIT KINERJA
1. Karateristik Value for money audit
2. Audit Ekonomi dan Efisiensi serta  Efektifitas
3. Standard Audit Sektor Publik
4. Permasalah audit kinerja Lembaga permerintahan
5. Struktur Audit keinerja sector public
6. Pengenalan dan perencanaan Audit
7. Tahapan Audit kinerja sector public
8. Tahapan Penindak Lanjutan ( follow Up )

Daftar Referensi :
1.Mardiasmo 2009 Akuntansi sector publik Penerbit Andi Yogyakarta
2.Indra Bastian 2010Akuntansi sector public Edisi tiga , Penerbit Airlangga Jakarta
3.IAI 2005 Pernyataan Standar Keuangan No 45 Peloporan Keuangan Organisasi Nirlaba Jakarta Divisi Publikasi IAI
4.Indra Bastian Sistem Akuntansi Sektor Publik Modul Pelatihan Penyusunan Laporan Keuangan Jakarta Penerbit Salemba Empat
5.http://www.Bapenas.go.id

Riset akuntansi

RISET ILMIAH
http://metopenkomp.blogspot.co.id/2014/02/apa-itu-riset-atau-penelitian.html

1. Pengertian Riset
Menurut Leddy (1997:3) pengertian riset/ penelitian adalah sebuah proses yang tersusun secara sistematis meliputi pengumpulan data dan analisis data/ informasi dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan kita mengenai fenomena yang menjadi perhatian kita atau yang sedang kita amati.

2. Pengetahuan Ilmiah
3. Kriteria Reset Ilmiah
4. Langkah-Langkah Riset
5. Proposal Riset yang Dibiayai
6. Proposal Riset Skripsi
7. Menilai Proposal Riset

METODE DAN DESAIN RISET
1. Pemakaian Metode dan Desain Reset
2. Metode Sejarah
3. Metode Deskriptif
4. Metode Eksperimen
5. Metode Kausal – Komparatif (Ex-Post Facto)
6. Metode Partisipatoris
7. Desain Reset
8. Jenis Desain Riset
9. Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif

TOPOLOGI DATA
1. Data Primier dan Sekunder
2. Data Internal dan Eksternal
3. Data Time Series dan Gross Section
4. Data dengan Variable Bebas dan variable Tidak Bebas
5. Data Berskala

TEKNIK SAMPLING
1. Dasar Pemikiran
2. Ukuran Sample
3. Teknik Pengambilan Sample
4. Kekeliruan Sample
5. Tugas Melakukan Sampling Data yang Akan Dikumpulkan

METODE DAN INSTRUMEN PENGUMUPULLAN DATA
1. Kriteria Instrumen yang Baik
2. Langkah Penyusunan Instrumen
3. Metode/Teknik Pengumpulan Data
4. Teknik Membuat Skala
5. Cara Membuat Kuesioner
6. Simbol-Simbol Desain
7. Formulir

ALAT-ALAT ANALISIS AKUNTANSI
1. Rasio Keuangan
2. Penilaian Investasi
3. Petunjuk Cara Menganalisis
4. Model Linier Programming

ALAT ANALISIS STATISTIK UNTUK METODE RISET AKUNTANSI
Statistik Sampel
1. Angka Indeks
2. Tabulasi Silang
3. Analisis Regresi Sederhana
4. Peramalan
5. Regresi Linier Berganda
6. Regresi Nonlinier
7. Korelasi Product Moment

CARA MENGOLAH DATA RESET DAN MENYAJIKAN HASIL RESET
1. Langkah-Langkah Menganalisis Masalah
2. Struktur Penulisan Ilmiah
3. Ketentuan Format Tulisan Ilmiah
4. Ketentuan Daftar Pustaka

BAHASAN KASUS
1. Menganalisis Dokumen Masukan
2. Menganalisis Efektifitas dan Efisiensi Prosedur Akuntansi
3. Menganalisis Dokumen Keluaran
4. Peran Akuntansi dan Keuangan dalam Analisis Investasi Keuangan

REFERENSI:

1. Drs. Husein Umar, SE., MM., MBA., Riset Akuntansi Dilengkapi dengan panduan membuat skripsi dan empat bahasan kasus bidang Akuntansi, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1997.
2. Drs. Ibnu Subiyanto, Akt., Metode Penelitian Akuntansi, Penerbit STIE YKPN, Yogyakarta, 1993.
3. Panduan Penulisan Ilmiah yang Diterbitkan Oleh Bagian Penulisan Ilmiah Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma.

Pemeriksaan akuntansi lanjutan

AUDITING, ASSURANCE, and PENGENDALIAN INTERNAL  (INTERNAL CONTROL)
1. Konsep Dasar dan Ruang lingkup
http://yann-achmad.blogspot.co.id/2012/04/auditor.html

Definisi audit internal menurut IIA (Institute of Internal auditor) Audit internal adalah aktivitas independen, keyakinan objektif, dan konsultasi yang dirancang untuk menambah nilai dan meningkatkan operasi organisasi. Audit internal ini membantu organisasi mencapai tujuannya dengan melakukan pendekatan sistematis dan disiplin untuk mengevaluasi dan meningkatkan efektivitas manajemen resiko, pengendalian dan proses tata kelola.

Ruang lingkup audit internal menurut The Institute of Internal auditors (IIA) Ruang lingkup audit internal harus mencakup kecukupan dan efektivitas sistem kinerja organisasi dalam melaksanakan tanggung jawab yang ditugaskan; (1) keandalan dan menyokong informasi; (2) sesuai dengan kebijakan, rencana, prosedur, hukum, peraturan dan kontak; (3) pengamanan aktiva; (4) penggunaan sumber daya yang ekonomis dan efisien; (5) tercapainya target yang ditetapkan dan tujuan program operasi.

2. Kompetensi Lulusan
3. Perbedaan Jenis Audit
4. Audit Keuangan
5. Resiko Audit
6. Peran Komite Audit
7. Audit berbasis IT
8. Pengendalian Internal

Pengoperasian Komputer (COMPUTER OPERATION)
1. Struktur dan Fungsi IT
2. Pusat Komputer
3. Sistem Operasi dan System-Wide Controls
4. Sistem Personal Computer (PC)

SISTEM MANAJEMEN DATA (DATA  MANAGEMENT SYSTEMS)
1. Pendekatan Manajemen Data
2. Sistem Database yang Tersentralisasi
3. Lingkungan dalam Pendistribusian Database
4. Pengendalian dan Sistem Manajemen Data dalam Auditing

AKTIVITAS PENGEMBANGAN DAN PEMELIHARAAN SISTEM (SYSTEM DEVELOPMENT and MAINTENANCE ACTIVITIES)
1. Partisipan dalam Pengembangan Sistem
2. Akuisisi (Pengembangan) Sistem Informasi
3. System Development Life Cycle (SDLC)
4. Pengendalian dan Auditing SDLC

NETWORKS, INTERNET, dan E-COMMERCE
1. Network
2. Internet
3. E-Commerce
4. Pengendalian internet/E-commerce

PENGANTAR IT GOVERNANCE- COBIT (ditambahkan  dengan SAS dan SPAP yang relevan)
1. Konsep IT Governance
2. Control Objective Information and Relation Technology (COBIT)
3. Hubungan IT Governance dengan COBIT

SISTEM ENTERPRISE RESOURCE PLANNING (ERP)
1. Pengertian ERP
2. Konfigurasi sistem ERP
3. Data Warehousing
4. Hubungan risiko dengan implementasi ERP dan implikasinya pada pengendalian internal dan auditing

COMPUTER-ASSISTED AUDIT TOOLS  AND TECHNIQUES (CAATTs)  untuk ANALISIS dan EKSTRKASI DATA
1. Pengendalian Aplikasi
2. Pengujian Pengendalian Aplikasi dengan Komputer (Testing Computer Application Controls)
3. Pengujian Pengendalian dengan Computer-Aided Audit Tools and Techniques (CAATTs)
4. Data Terstruktur
5. Embedded Audit Module (EAM)
6. Generalized Audit Software (GAS)
7. Software ACL

AUDITING REVENUE CYCLE
1. Overview Siklus Pendapatan Berbasis Teknologi
2. Tujuan Audit, Pengendalian Internal dan Uji Pengendalian Siklus Pendapatan
3. Uji Substantif Rekening Siklus Pendapatan

AUDITING EXPENDITURE CYCLE
1. Overview Siklus Pengeluaran berbasis teknologi
2. Prosedur Pembelian dan Cash Disbursement dengan menggunakan teknologi Batch Processing
3. Sistem Reengineering Pembelian/Cash Disbursement
4. Prosedur Payroll
5. Tujuan Audit, Pengendalian Internal, dan Uji Pengendalian Siklus Pengeluaran
6. Uji Substantif Rekening Siklus Pengeluaran

ETIKA BISNIS, FRAUD DAN PENDETEKSIAN FRAUD
1. Etika Bisnis
2. Akuntan dan Kecurangan
3. Skema Fraud
4. Pertanggungjawaban Auditor terhadap Pendeteksian Kecurangan
5. Teknik Mendeteksi Kecurangan

AUDIT E-BANKING /TSI PERBANKAN
1. Konsep Audit TSI Perbankan
2. Tujuan, Rencana penanggulangan risiko, dan Tanggungjawab manajemen Bank
3. Penyelenggaraan Audit TSI di Bank
4. Panduan Pengamanan Penggunaan TSI oleh Bank

REFERENSI:
• James A. Hall, Tommie Singleton, Thomson South Western, ” Information Technology Auditing and Assurance” 2nd Edition, 2005 (BUKU UTAMA)
• Alvin A. Arens, Randal J. Elder dan  Mark S. Beasley , 2001, "Auditing, An Assurance Service", 12rd Edition, Pearson Education Inc, New Jersey
• Champlain, Jack J., “Auditing Information Systems”, 2nd edition, John Wiley & Sons, Inc. (C)
• Mulyadi, "Auditing", Buku 1 dan Buku 2, Edisi 6, 2002, Penerbit Salemba Empat , Jakarta
• Ron Webber, “Information Systems Control and Audit”, Prentice Hall, 1999
• Artikel-artikel terkait yang diunduh dari internet, majalah auditing, majalah komputer, dll


Pemeriksaan akuntansi 2

KONSEP DASAR AUDIT MANAJEMEN
1. Konsep Dasar dan Ruang lingkup
http://yuliakurnia.blogspot.co.id/2011/07/materi-kuliah.html

Konsep Dasar Audit manajemen adalah audit terhadap manajemen suatu organisasi secara keseluruhan untuk menilai usur-unsur manajemen apakah telah direncanakan, dijalankan dan dikendalikan dengan prinsip-prinsip manajemen yang baik dan benar sehingga organisasi melalui fungsi-fungsinya dapat mencapai tujuan yang direncanakan yang mencakup dimensi PQCDSME (productivity, quality, cost, delivery, safety, morale, environment) secara efektif dan efisien.

http://rhurhy.blogspot.co.id/2014/04/konsep-dasar-audit-manajemen.html

ruang lingkup audit manajemen adalah meliputi seluruh operasi internal perusahaan yang dipertanggungjawabkan kepada berbagai pihak yang memiliki wewenang yang lebih tinggi.

2. Kompetensi lulusan


3. Management Audit Vs Financial Audit
https://eightishad.wordpress.com/2013/05/27/audit-manajemen-perbedaan-audit-manajemen-dan-audit-keuangan/
 
Tujuan Audit
Audit keuangan dilakukan untuk mendapatkan keyakinan bahwa laporan keuangan yang disajikan oleh perusahaan (manajemen) telah disusun melalui proses akuntansi yang berlaku umum dan menyajikan dengan sebenarnya kondisi keuangan perusahaan pada tanggal pelaporan dan kinerja manajemen pada period tersebut. Dari hasil audit ini kemudian akuntan (auditor) memberikan opini sebagai tanda pengesahan atas laporan tersebut, untuk dapat digunakan oleh sebagian besar pemakai laporan keuangan.Sedangkan audit manajemen ditujukan untuk mencapai perbaikan atas berbagai program/aktivitas dalam pengelolaan perusahaan yang masih memerlukan perbaikan. Oleh sebab itu, auditnya dirancang untuk menemukan berbagai kelemahan dalam operasional perusahaan, menentukan penyebabnya, menganalisis akibat yang ditimbulkan, dan mencari jalan perbaikan atas kelemahan tersebut. Perbaikan-perbaikan yang mungkin direkomendasikan dari hasil audit manajemen dapat berupa perbaikan perencanaan program, metoda kerja, standar penilaian, proses pengelolaan sumber daya, dan sebagainya tergantung pada kelemahan yang terdapat pada perusahaan tersebut. Tetapi dari keseluruhan perbaikan tersebut dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) yaitu penghematan, efisiensi, dan efektivitas pencapaian tujuan perusahaan.
•  Ruang Lingkup Audit
Audit Keuangan menekankan auditnya pada data-data akuntansi perusahaan dan proses penyajian laporan yang disajikan manajeme. Oleh karena itu, ruang lingkup auditnya berkisar pada bukti-bukti transaksi dan proses akuntansi yang diterapkan pada objek audit. Dalam menentukan luas audit, auditor mendasarkan keyakinannya pada efektivitas pengendalian internal perusahaan. Oleh karena itu, auditor harus melakukan penelaahan terhadap pengendalian internal audit yang diterapkan perusahaan tersebut. Semakin kuat pengendalian internal yang dimiliki perusahaan biasanya auditor cenderung menetapkan luas audit yang lebih kecil dan sebaliknya, semakin lemah pengendalian internal perusahaan, auditor cenderung menetapkan luas audit yang lebihbesar.Pada audit manajemen, ruang lingkup meliputi keseluruhan fungsi manajemen dan unit-unit terkait yang ada didalamnya. Ruang lingkup ini dapat berupa seluruh program/aktivitas atau dapat juga hanya mencakup bagian tertentu dari program/aktivitas yang dilakukan. Dalam menentukan luas auditnya, auditor menekankan keyakinannya pada efektivitas pengendalian manajemen yang dimiliki perusahaan. Oleh karena itu, secara khusus dalam tahap-tahap auditnya, auditor melakukan tinjauan terhadap pengendalian manajemen perusahaan.
•  Dasar Yuridis
secara hukum semua perusahaan harus menyajikan laporan keuangan yang telah diaudit oleh auditor independen (akuntan publik) kepada pihak-pihak yang berkepentingan dengan laporan keuangan tersebut. Bagi perusahaan yang telah go public  penyajian laporan keuangan yang telah diaudit merupakan salah satu bentuk penyajian informasi yang jujur dan bertanggung jawab  kepada investor/calon investor. Oleh sebab itu, salah satu prasayarat perusahaan untuk tetap dapat mencatatkan sahamnya du bursa adalah penyajian laporan keuangan interim yang telah diaudit oleh auditor independen. Bagi perusahaan yang belum go public,pelaporan pajak (dalam bentuk surat pemberitahuan) ke Kantor Pelayanan Pajak, dilampiri laporan keuangan. Wajib pajak yang baik (taat) akan melampirkan laporan keuangan yang telah diaudit oleh auditor independen.Berbeda dengan audit keuangan, audit manajemen bukanlah suatu keharusan bagi suatu suatu perusahaan. Audit manajemen berangkat dari kepedulian manajemen atau yang memiliki wewenang yang lebih tinggi untuk memperbaiki berbagai program/aktivitas yang berjalan di perusahaan. Audit manajemen dalam hal ini dapat menjadi pilihan dalam mencari penyebab terjadinya kelemahan proses yang berjalan dan menganalisis akibatnya serta menentukan langkah perbaikan yang dapat dilakukan dalam memperbaiki kelemahan-kelemahan tersebut.
•  Pelaksana Audit
Audit keuangan dilakukan dalam rangka mendapatkan pengesahan (opini) secara independen dari pihak auditor atas kewajaran laporan keuangan yang disajikan manajemen perusahaan tersebut. Oleh karena itu, audit juga harus dilakukan oleh pihak independen (auditor eksternal) agar pengguna informasi merasa yakin akan keakuratan dan kebenaran informasi yang disajikan dalam laporan keuangan tersebut. Sedangkan audit manajemen dilakukan dalam rangka untuk menemukan berbagai kekurangan/kelemahan pengelolaan perusahaan (melalui pengelolaan berbagai program/aktivitas) yang dilakukan manajemen, sehingga dapat ditentukan langkah-langkah perbaikan terhadap kekurangan tersebut. Oleh karena itu, selain auditor independen, audit juga bisa dilakukan oleh auditor internal (staf auditor yang dimiliki perusahaan).Pertimbangan objektivitas dan biaya audit menjadi dasar untuk menentukan siapa yang akan dipilih perusahaan untuk melakukan audit manajemen. Jika pertimbangan lebih ditekankan kepada masalah biaya audit, biasanya perusahaan lebih memilih untuk memanfaatkan tenaga auditor yang dimilikinya. Sedangkan jika pertimbangannya lebih ditekankan kepada tingkat objektivitas dan independensi auditor, audit biasanya dilakukan oleh auditor dari luar perusahaan (external auditor).
•  Frekuensi Auditor
Kebutuhan audit berhubungan langsung dengan penerbitan laporan keuangn, audit keuangan dilakukan paling sedikit satu kali dalam satu tahun dan ini bersifat reguler. Sedangkan audit manajemen, tidak ada ketentuan mengikat yang mengharuskan untuk melakukan audit setiap periode waktu tertentu. Kebutuhan audit sangat dipengaruhi oleh kepedulian manajemen dalam mencapai tingkat efisiensi dan efektivitas yang lebih tinggi dan kebutuhan untuk memperbaiki berbagai program/aktivitas yang hasilnya belum optimal.
•  Orientasi Hasil Audit
Audit keuangan dilakukan terhadap data-data keuangan perusahaan yang bersifat historis. Oleh karena itu, audit ini lebih menekankan pada penilaian tehadap kinerja masa lalu yang telah dicapai manajemen pada periode pelaporan. Sedangkan audit manajemen lebih menekankan auditnya untuk kepentingan perbaikan-perbaikan yang akan dilakukan dimasa yang akan datang. Audit manajemen lebih merupakan anticipatory audit, sebagai sarana untuk mengantisipasi atau mencegah kemungkinan tejadinya kegagalan akibat kelemahan-kelemahan yang ada pada perusahaan.
•  Bentuk Laporan Audit
Audit keuangan telah memiliki standar bentuk laporan audit yang bersifat baku bagi seluruh akuntan indenpenden yang melakukan audit keuangan. Hal ini diatur dalam Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP). Bentuk laporan yang disampaikan biasanya adalah laporan bentuk pendek yang menyertai laporan keuangan hasil audit.Sedangkan laporan hasil audit manajemen, biasanya disajikan dalam bentuk laporan yang bersifat komprehensif, dimana di dalam laporan tersebut disamping menyampaikan kesimpulan audit, juga disajikan temuan-temuan penting hasil audit yang menjadi dasar dalam pembuatan kesimpulan dan rekomendasi. Audit manajemen belum memiliki standar laporan yang baku sehingga penyajian laporan sangat dipengaruhi oleh kemampuan auditor berkreasi untuk menyampaikan informasi yang selengkap mungkin dalam laporannya kepada berbagai pihak yang membutuhkan hasil audit tersebut.
•  Pengguna Laporan
Laporan audit keuangan ditujukan kepada berbagai kelompok pengguna yang berada diluar perusahaan (eksternal). Berbagai kelompok tersebut di antaranya pemegang saham, kreditor, pemerintah, dan sebagainya. Untuk memenuhi kebutuhan informasi berbagai kelompok tersebut, laporan keuangan disusun sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan sebagaian besar pemakai.Laporan audit manajemen lebih ditujukan kepada pihak internal perusahaan. Berbagai pihak sesuai dengan bidangnya membutuhkan informasi tentang potensi perbaikan yang bisa dilakukan perusahaan di masa yang akan datang. Oleh karena itu, laporan audit manajemen dapat menyajikan berbagai informasi untuk memenuhi kebutuhan pemangku kepentingan yang ada pada perusahaan.


4. Organisasi Management Audit
5. Kebutuhan Management Audit
6. Peran Management Auditor
7. Tipe dan Area Management Audit
8. Kriteria untuk Penilaian dan Tahap Management Audit

TEKNIK DAN PENDEKATAN MANAGEMENT AUDIT
1. Pengenalan Industri Auditee
2. Management Audit dengan Pendekatan Arus Sumber Daya
3. Management Audit Berdasarkan Fungsi
4. Penugasan Khusus dalam Management Audit

PERILAKU DALAM  MANAGEMENT AUDIT
1. Hubungan Antar Manusia dalam Management Audit
2. Hubungan Kerjasama antara Management dengan External Auditor
3. Hubungan Kerjasama antara Management Auditor  dengan Auditee
4. Komunikasi dalam Management Audit

TEMUAN KEKURANGAN (DEFECIENCY FINDINGS) DAN PELAPORAN HASIL MANAGEMENT AUDIT
1. Temuan Defesiensi
2. Laporan Audit Manajemen

AUDIT PEMASARAN
1. Definisi audit pemasaran
2. Bentuk audit
3. Tempat audit pemasaran dalam audit manajemen
4. Ruang lingkup dan frekwensi dari audit pemasaran
5. Langkah dalam audit pemasaran
6. Proses penilaian
7. Peranan analisis SWOT
8. Karakteristik dari audit pemasaran yang efektif
9. Prosedur audit
10. Komponen audit

AUDIT SISTEM KEPASTIAN MUTU (QUALITY ASSURANCE SYSTEM AUDIT)
1. Definisi dan tipe audit kepastian mutu
2. Sejarah audit mutu
3. Prinsip dan praktik auditing
4. Pemisahan klien, auditor dan auditee
5. Daur hidup audit mutu
6. Mengorganisasi auditing
7. Program dan proyek audit
8. Perencanaan audit
9. Menyiapkan kertas kerja
10. Penelaahan pra audit dari sistem mutu (menilai dokumentasi system)
11. Persiapan untuk melakukan audit (tim audit)
12. Melaksanakan audit
13. Mengumpulkan dan menilai bukti yang obyektif
14. Menangansi pengamatan
15. Melaporkan hasil dan tindak lanjut audit
16. Penyelesaian audit
17. Kualifikasi auditor mutu

AUDIT MANUFAKTURING
1. Konsep manufaktur
2. Ruang lingkup audit dibidang  produksi
3. Produktivitas perusahaan - Model Masukan Keluaran
4. Audit manufacturing
5. Contoh pelaksanaan audit manufakturing produksi

AUDIT SUMBER DAYA MANUSIA
1. Definisi Audit Sumber Daya Manusia
2. Daftar periksa sumber daya manusia
3. Pelaksanaan dan langkah dalam proses audit sumber daya manusia
4. Pendekatan dalam audit sumber daya manusia
5. Fungsi sumber daya manusia
6. Memanfaatkan temuan audit dan metode analisis temuan
7. Penyiapan laporan dan rekomendasi

AUDIT PENGOLAHAN DATA ELEKTRONIK
1. Dampak teknologi komputer terhadap profesi akuntan
2. Pengertian EDP Auditing/Computer Auditing/Computer-Based Auditing
3. Metode Audit EDP
4. Sistem audit manual/Tradisional Vs Sistem Audit EDP
5. Sistem pengendalian intern dalam EDP
6. Resiko audior (audit risk)
7. Pengetahuan yang harus dimiliki oleh auditor komputer

AUDIT LINGKUNGAN (ENVIRONMENTAL AUDITING)
1. Definisi dan sifat audit lingkungan
2. Auditing sebagai komponen dari manajemen lingkungan
3. Falsafah manajemen lingkungan dasar
4. Auditing dalam konteks resiko lingkungan
5. Sebab dan manfaat audit lingkungan
6. Tipe audit
7. Auditor lingkungan
8. Tahap pelaksanaan audit lingkungan
9. Aktivitas pra dan setelah (post) audit
10. Audit lingkungan di Indonesia

AUDIT KECURANGAN (FRAUD)
1. Definisi audit kecurangan
2. Penyebab terjadinya kecurangan
3. Tanda peringatan untuk kecurangan
4. Area yang sensitive
5. Karakteristik pribadi
6. Praktik kecurangan yang umum
7. Kecurangan dan tanggung jawab auditor intern

AUDIT INTERN
1. Peranan Internal Audit
2. Manajemen internal audit
3. Pengembangan kualitas para pemeriksa
4. Buku pedoman pemeriksaan
5. Pengendalian tugas pemeriksaan
6. Pelaporan hasil pemeriksaan
7. Pemantauan tindak lanjut
8. Penataan kertas kerja pemeriksaan

REFERENSI:
1. Amin Wijaya Tunggal, " Management Audit Suatu Pengantar", Penerbit Rineka Cipta, Jakarta, 2000
2. Amin Wijaya Tunggal, "Audit Manajemen Kontemporer", Edisi Revisi, Penerbit Harvarindo, Jakarta, 2003
3. Ikatan Akuntan Indonesia Kompartemen Akuntan Publik, "Standar Profesional Akuntan Publik", 2001, Penerbit Salemba Empat, Jakarta
4. Ikatan Akuntan Indonesia., "Standar Akuntansi Keuangan"., 2004 , Salemba Empat, Jakarta.
5. Mardiasmo, "Akuntansi Sektor Publik", BPFE Yogyakarta, 2000
6. Soedjono Karni, "Auditing, Audit Khusus & Audit Forensik Dalam Praktik, LPFE UI, Jakarta, 2000
7. Tugiman Hiro, "Standar Profesional Audit Internal", 2000, Penerbit Kanisius, Yogyakarta

Pemeriksaan akuntansi 1

AUDITING DAN PROFESI AKUNTAN PUBLIK.
1. Perkembangan profesi akuntan publik
http://lestari-perkembanganprofesiakuntansi.blogspot.co.id

Ø  Perkembangan profesi akuntan di Indonesia menurut Olson
Periode ke 2 (tahun 1954 – 1973)
Setelah adanya Undang-Undang No. 34 tahun 1954 tentang pemakaian gelar akuntan, auditor di Indonesia berjalan lamban karena perekonomian Indonesia pada saat itu kurang menguntungkan. Mengingat terbatasnya tenaga akuntan dan ajun akuntan yang menjadi auditor pada waktu itu, Direktorat Akuntan Negara meminta bantuan kantor akuntan publik untuk melakukan audit atas nama Direktorat Akuntan Negara.
Perluasan pasar profesi akuntan publik semakin bertambah yaitu pada saat pemerintah mengeluarkan Undang-undang Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMND) tahun 1967/1968. Profesi akuntan publik mengalami perkembangan yang berarti sejak awal tahun 70-an dengan adanya perluasan kredit-kredit perbankan kepada perusahaan. Bank-bank ini mewajibkan nasabah yang akan menerima kredit dalam jumlah tertentu untuk menyerahkan secara periodik laporan keuangan yang telah diperiksa akuntan publik. Pada umumnya, perusahaan-perusahaan swasta di Indonesia baru memerlukan jasa akuntan publik jika kreditur mewajibkan mereka menyerahkan laporan keuangan yang telah diperiksa oleh akuntan publik.

c.   Periode ke 3 (tahun 1973 – 1979)
M. Sutojo pada Konvensi Nasional Akuntansi I di Surabaya Desember 1989 menyampaikan hasil penelitiannya mengenai: Pengembangan Pengawasan Profesi Akuntan Publik di Indonesia, bahwa profesi akuntan publik ditandai dengan satu kemajuan besar yang dicapai Ikatan Akuntan Indonesia dengan diterbitkannya buku Prinsip Akuntansi Indonesia (PAI) dan Norma Pemeriksaan Akuntan (NPA) dalam kongres Ikatan Akuntan Indonesia di Jakarta tanggal 30 November – 2 Desember 1973. Dengan adanya prinsip dan norma ini, profesi akuntan publik telah maju selangkah lagi karena memiliki standar kerja dalam menganalisa laporan keuangan badan-badan usaha di Indonesia. Pada akhir tahun 1976 Presiden Republik Indonesia dalam surat keputusannya nomor 52/1976, menetapkan pasar modal yang pertama kali sejak memasuki masa Orde Baru. Dengan adanya pasar modal di Indonesia, kebutuhan akan profesi akuntan publik meningkat pesat. University menyatakan bahwa profesi akuntan publik dibutuhkan untuk mengaudit dan memberikan pendapat tanpa catatan (unqualified opinion) pada laporan keuangan yang go public atau memperdagangkan sahamnya di pasar modal.
 Pada tanggal 1 Mei 1978 dibentuk Seksi Akuntan Publik (IAI-SAP) yang bernaung di bawah IAI. Sampai sekarang seksi yang ada di IAI, selain seksi akuntan publik, adalah seksi akuntan manajemen dan seksi akuntan pendidik. Keputusan Menteri Keuangan No. 108/1979 tanggal 27 Maret 1979 yang menggariskan bahwa laporan keuangan harus didasarkan pada pemeriksaan akuntan publik dan mengikuti PAI. Maksud instruksi dan surat keputusan tersebut adalah untuk merangsang wajib pajak menggunakan laporan keuangan yang telah diperiksa oleh akuntan publik, dengan memberikan keringanan pembayaran pajak perseroan dan memperoleh pelayanan yang lebih baik di bidang perpajakan. Keputusan ini dikenal dengan nama 27 Maret 1979. Ini merupakan keputusan yang penting dalam sejarah perkembangan profesi akuntan publik dan sekaligus sebagai batu ujian bagi akuntan publik dan masyarakat pemakainya.

d.      Periode ke 4 (tahun 1979 – 1983)
Pada periode profesi akuntan publik dalam keadaan suram, pelaksanaan paket 27 Maret. Tiga tahun setelah kemudahan diberikan pemerintah masih ada akuntan publik tidak memanfaatkan maksud baik pemerintah tersebut. Beberapa akuntan publik melakukan malpraktik yang sangat merugikan penerimaan pajak yaitu dengan cara bekerjasama dengan pihak manajemen perusahaan melakukan penggelapan pajak.
e.       Periode ke 5 (tahun 1983 – 1989)
Periode ini yang berisi upaya konsolidasi profesi akuntan termasuk akuntan publik. PAI 1973 disempurnakan dalam tahun 1985, disusul dengan penyempurnaan NPA pada tahun 1985, dan penyempurnaan kode etik dalam kongres ke V tahun 1986.
Setelah melewati masa-masa suram, pemerintah perlu memberikan perlindungan terhadap masyarakat pemakai jasa akuntan publik dan untuk mendukung pertumbuhan profesi tersebut.
 Pada tahun 1986 pemerintah mengeluarkan Keputusan Menteri Keuangan No. 763/KMK.001/1986 tentang Akuntan Publik. Keputusan ini mengatur bidang pekerjaan akuntan publik, prosedur dan persyaratan untuk memperoleh izin praktik akuntan publik dan pendirian kantor akuntan publik beserta sanksi-sanksi yang dapat dijatuhkan kepada akuntan publik yang melanggar persyaratan praktik akuntan publik.
Dengan keputusan Menteri Keuangan tersebut dibuktikan pula sekali lagi komitmen pemerintah yang konsisten kepada pengembangan profesi akuntan publik yaitu dengan mendengar pendapat Ikatan profesi pada kongres ke VI IAI antara lain mengenai: pengalaman kerja yang perlu dimiliki sebelum praktik; keharusan akuntan publik fultimer (kecuali mengajar); izin berlaku tanpa batas waktu; kewajiban pelaporan berkala (tahunan) mengenai kegiatan praktik kepada pemberi izin; pembukaan cabang harus memenuhi syarat tertentu; izin diberikan kepada individu bukan kepada kantor; pencabutan izin perlu mendengar pendapat dewan kehormatan IAI; pemohon harus anggota IAI; pengawasan yang lebih ketat kepada akuntan asing. Pada tahun 1988 diterbitkan petunjuk pelaksaan keputusan Menteri Keuangan melalui Keputusan Direktur Jenderal Moneter No. Kep.2894/M/1988 tanggal 21 Maret 1988. Suatu hal yang mendasar dari keputusan tersebut adalah pembinaan para akuntan publik yang bertujuan:
Membantu perkembangan profesi akuntan publik di Indonesia
  Memberikan masukan kepada IAI atau seksi akuntan publik mengenai liputan  yang dikehendaki Departemen Keuangan dalam program pendidikan
  Melaksanakan penataran bersama IAI atau IAI-seksi akuntan publik mengenai hal-hal yang dianggap perlu diketahui publik (KAP), termasuk  mengenai manajemen KAP.
  Mengusahakan agar staf KAP asing yang diperbantukan di Indonesia untuk memberi penataran bagi KAP lainnya melalui IAI atau IAI-Seksi Akuntan Publik dan membantu pelaksanaannya
  Memantau laporan berkala kegiatan tahunan KAP
f.       Periode ke 6 (tahun 1990 – sekarang)
Pada periode ini profesi akuntan publik terus berkembang seiring dengan berkembangnya dunia usaha dan pasar modal di Indonesia. Walaupun demikian, masih banyak kritikan-kritikan yang dilontarkan oleh para usahawan dan akademisi. Namun, keberadaan profesi akuntan tetap diakui oleh pemerintah sebagai sebuah profesi kepercayaan masyarakat. Di samping adanya dukungan dari pemerintah, perkembangan profesi akuntan publik juga sangat ditentukan ditentukan oleh perkembangan ekonomi dan kesadaran masyarakat akan manfaat jasa akuntan publik. Beberapa faktor yang dinilai banyak mendorong berkembangnya profesi adalah:
  Tumbuhnya pasar modal
  Pesatnya pertumbuhan lembaga-lembaga keuangan baik bank maupun non- bank.
  Adanya kerjasama IAI dengan Dirjen Pajak dalam rangka menegaskan peran akuntan publik dalam pelaksanaan peraturan perpajakan di Indonesia
  Berkembangnya penanaman modal asing dan globalisasi kegiatan perekonomian
Pada awal 1992 profesi akuntan publik kembali diberi kepercayaan oleh pemerintah (Dirjen Pajak) untuk melakukan verifikasi pembayaran PPN dan PPn BM yang dilakukan oleh pengusaha kena pajak. Sejalan dengan perkembangan dunia usaha tersebut, Olson pada tahun 1979 di dalam Journal Accountanty mengemukakan empat perkembangan yang harus diperhatikan oleh profesi akuntan yaitu:
a.                   Makin banyaknya jenis dan jumlah informasi yang tersedia bagi masyarakat
b.                  Makin baiknya transportasi dan komunikasi
c.                   Makin disadarinya kebutuhan akan kualitas hidup yang lebih baik
d.                  Tumbuhnya perusahaan-perusahaan multinasional sebagai akibat dari fenomena pertama dan kedua.

2. Konsep Auditing
3. Hirarki auditor dalam Organisasi Kantor Akuntan Publik
4. Standar Auditing
5. Laporan Audit (audit report)
6. Analisis terhadap laporan audit

ETIKA PROFESIONAL
1. Pengertian Etika Profesional
2. Praktek Auditing dan permasalahannya.

TUJUAN AUDITING
1. Tujuan audit menyeluruh
2. Tahapan dalam menetapkan tujuan audit
3. Proses Pencapaian tujuan audit

BUKTI AUDIT
1. KonsepBukti Audit
2. Hubungan Bahan Bukti dengan Standar Auditing
3. Hubungan Bukti pemeriksaan dengan tujuan auditing
4. Situasi pemeriksaan yang mengandung risiko

KERTAS KERJA
1. Konsep kertas kerja
2. Tipe Kertas Kerja
3. Index Kertas Kerja

PENERIMAAN PERIKATAN DAN PERENCANAAN AUDIT
1. Tahap audit atas laporan keuangan
2. Tahap penerimaan perikatan audit
3. Perencanaan audit
4. Melaksanakan Prosedur Analitik
5. Pengujian audit (audit test)

MATERIALITAS, RISIKO DAN STRATEGI AUDIT AWAL
1. Materialitas
2. Risiko Audit
3. Strategi audit awal

PEMAHAMAN PENGENDALIAN INTERN
1. Definisi struktur pengendalian intern
2. Unsur pengendalian intern
3. Pemahaman atas pengendalian intern dan pengujian pengendalian
4. Pengujian pengendalian
5. Audit intern (internal auditing)

PENAKSIRAN RESIKO DAN DESAIN PENGUJIAN
1. Penaksiran resiko pengendalian
2. Pengujian pengendalian
3. Perancangan pengujian pengendalian
4. Program audit untuk pengujian pengendalian
5. Kerja sama dengan auditor intern dalam pengujian pengendalian
6. Pengujian dengan tujuan ganda (dual-purpose tests)
7. Penentuan resiko deteksi
8. Desain pengujian substantif
9. Pengembangan program audit untuk pengujian substantif
10. Perbandingan antara pengujian pengendalian dengan pengujian subtantif

ATTRIBUTE SAMPLING UNTUK PENGUJIAN PENGENDALIAN
1. Statistical sampling
2. Statistical sampling models
3. Attribute sampling models
4. Fixed-sampling-size attribute sampling
5. Stop-or-go sampling
6. Discovery sampling

VARIABLE SAMPLING UNTUK PENGUJIAN SUBSTANTIF
1. Variable sampling
2. Variable sampling untuk uji hipotesis
3. Variable sampling untuk estimasi

AUDIT DALAM LINGKUNGAN SISTEM INFORMASI KOMPUTER
1. Perkembangan pemanfaatan komputer
2. Beda antara akuntansi dengan manual system dengan akuntan dengan sistem informasi komputer
3. Dampak teknologi informasi terhadap pekerjaan,tipe pekerja,organisasi,dan cara pengelolaan organisasi
4. Dampak teknologi informasi terhadap hubungan bisnis
5. Tipe konfigurasi sistem informasi komputer
6. Teknik audit berbantuan komputer (TABK)


DAFTAR REFERENSI:

1. Abdul Halim., "Pemeriksaan Akuntansi 1", 1994, Penerbit Gunadarma, Jakarta.
2. Anies S.M. Basalamah, "Auditing PDE", 1995, Penerbit Usaha Kami, Depok
3. Arens, Alvin A. and Loebbecke, James K., 1994, "Auditing, An Integrated Approach", 6 rd Edition, Englewood Cliffs, New Jersey, Prentice Hall
4. Arens & Loebbecke, Adaptasi oleh : Amir Abadi Jusuf., "Auditing : Pendekatan Terpadu", Buku 2, Edisi Indonesia, 1999, Penerbit Salemba Empat, Jakarta.
5. Ikatan Akuntan Indonesia Kompartemen Akuntan Publik,"Standar Profesional Akuntan Publik",2001,Penerbit Salemba Empat, Jakarta
6. Ikatan Akuntan Indonesia., "Standar Akuntansi Keuangan"., 2002 , Salemba Empat, Jakarta.
7. Mulyadi, "Auditing", Buku 1, Edisi 6, 2002, Penerbit Salemba Empat , Jakarta . (BUKU UTAMA YANG DIGUNAKAN)
8. Rittenberg, "Auditing : Concepts for a Changing Environment", 3 rd Edition, 2001,  Harcourt
9. Sukrisno Agoes, "Auditing (Pemeriksaan Akuntan) oleh Kantor Akuntan Publik", Jilid 1, Edisi kedua, 2000, Lembaga Penerbita FEUI, Jakarta
10. Sukrisno Agoes, "Auditing (Pemeriksaan Akuntan) oleh Kantor Akuntan Publik", Jilid 2, Edisi kedua, 2000, Lembaga Penerbita FEUI, Jakarta
11. Tugiman Hiro, "Standar Profesional Audit Internal", 2000, Penerbit Kanisius, Yogyakarta

Pengantar teknologi sistem informasi akuntansi 2

TEKNOLOGI KOMPUTER: TINJAUAN SEKILAS
1. Perangkat keras computer
http://nesabamedia.com/pengertian-dan-macam-macam-perangkat-keras-komputer/

hardware adalah komponen fisik yang membentuk sebuah sistem komputer.
2. Peralatan masukan
3. Peralatan keluaran
4. Perangkat lunak komputer

KONSEP JARINGAN KOMPUTER, OSI LAYER (BERBAGAI LAPISAN)
1. Perangkat keras dan perangkat lunak jaringan computer
2. Konsep jaringan computer : Lapisan fisik
3. Lapisan data link
4. Lapisan jaringan
5. Lapisan transport
6. Lapisan session
7. Lapisan presentasi
8. Lapisan aplikasi

PENGERTIAN SISTEM DAN ANALISIS SISTEM
1. Definisi Sistem
2. Karakteristik Sistem
3. Klasifikasi Sistem
4. Pengertian Analisis Sistem
5. Fungsi Analis Sistem

PERANCANGAN SISTEM SECARA UMUM
1. Pendahuluan
2. Arti Perancangan Sistem
3. Tujuan Perancangan Sistem
4. Personil Yang terlibat
5. Perancangan sistem secara umum
a. Perancangan Ouput
b. Perancangan Input
c. Perancangan Proses
d. Perancangan Database
e. Perancangan Kontrol
f. Perancangan Jaringan
g. Perancangan Komputer
6. Tekanan-tekanan Perancangan

PENGENALAN BASIS DATA DAN LINGKUNGAN BASIS DATA
1. Perbedaan sistem file tradisional dengan sistem file basis data dan keterbatasannya
2. Konsep dasar basis data
3. Keuntungan dan kerugian menggunakan basis data
4. Pengguna basis data
5. Arsitektur basis data
6. Data independence
7. Konsep, fungsi dan bahasa yang digunakan dalam DBMS
8. Model data: berbasis objek, berbasis record, konseptual dan fisik (overview model data berbasis record: model data relasional, jaringan hirarki)
9. Data Dictionary dan Arsitektur DBMS multiuser: file server, teleprocessing, client server

MODEL DATA RELASIONAL
1. Pengertian model relasional, contoh tabel-tabel dan keterhubungannya
2. Keuntungan model relasional
3. Istilah-istilah dalam model relasional (Relasi, atribut, tupelo, domain, derajat dan cardinality)
4. Relasional keys (super key, candidate key, primary key, alternatif)
5. Relasional Integrity Rules (Null, Entity, Referential Integrity)
6. Bahasa pada model relasional
a. Overview bahasa query formal (aljabar relasional dan kalkulus relasional)
b. Overview bahasa query komersial (QUEL, QBE dan SQL)
c. QBE

SQL
1. Pengenalan SQL
2. Pengelompokkan perintah SQL(DDL, DML, DCL)
3. Contoh kasus:
a. DDL  : create, drop, alter
b. DML  : select, insert, update, delete
c. DCL  : grant dan revoke

RDBMS
1. Overview RDBMS: DB2 dan ORACLE
2. Pengenalan DB2
a. Pengertian DB2
b. Perkembangan DB2
c. Kelebihan-kelebihan DB2
d. DB2 product family
e. Overview SQL data language
f. DB2 Utility
g. DB2 object
3. Pengenalan Oracle
a. Computing model
b. Overview perintah-perintah SQL
c. Interaksi antara SQL *Plus dengan SQL
d. SQL statement vs SQL*Plus statement
e. Contoh perintah SQL*Plus
f. PL/SQL (Lingkungan PL/SQL, keuntungan-keuntungan PL/SQL, contoh perintah SQL di dalam PL/SQL)

ALAT BANTU PERANCANGAN BASIS DATA (PENGENALAN ERD)
1. Model ERD (Entity Relationship Diagram)
a. Konsep dasar model ER: Entity, atribut, relationship type, symbol ERD, derajat relationship, cardinality constraint, participation constraint, weak entity dan strong entity
b. Transformasi ER ke model data relasional
c. Contoh aplikasi ER

PERANCANGAN SISTEM BERORIENTASI OBJEK DENGAN UML (UNIFIED MODELLING LANGUAGE)
1. Pengenalan UML.
2. Sejarah Singkat UML.
3. Bagian-bagian UML.
a. View.
b. Diagram.
4. Langkah-langkah Pembuatan UML.

ALAT BANTU PERANCANGAN BASIS DATA (NORMALISASI)
1. Normalisasi
a. Konsep dasar normalisasi
b. Tahapan normalisasi
c. Pengertian ketergantungan fungsional, ketergantungan fungsional penuh dan ketergantungan transitif
2. Proses Normalisasi
a. Bentuk normal ke-1
b. Bentuk normal ke-2
c. Bentuk normal ke-3
3. Contoh kasus


REFERENSI:
1. A. Suhendar, Hariman Gunadi, Visual Modeling Menggunakan UML dan RATIONAL ROSE, Informatika, Bandung, 2002.
2. Connoly, Thomas; Begg, Carolyn; Strachan, Anne; Database Systems : A Practical Approach to Design, Implementation and Management, 3rd edition, Addison Wesley, 2001.
3. Date, C.J.; An Introduction to Database System, Addison Wesley Publishing Company, Vol. 7, New York, 2000.
4. Elmasri, Ramez; Navathe, Shamkant B.; Fundamentals of Database Systems, The Benjamin/Cummings Publishing Company, Inc., California, 2001.
5. Kendall & Kendall, Analisis dan Perancangan Sistem, Edisi Ke 5 – Jilid 1, PT. Prenhallindo, Jakarta, 2003.
6. Kendall & Kendall, Analisis dan Perancangan Sistem, Edisi Ke 5 – Jilid 2, PT. Indeks, Jakarta, 2003.
7. Korth, H.; Database System Concept, Mc Graw Hill, 4th  edition, New York, 2002
8. Martin, James; Chapman, Kathleen K; Leben, Joe; Db2 Concepts, Design, and Programming, Prentice Hall International Inc., 1989.
9. Schmuller, Josep, SAMS Teach Yourself UML ini 24 Hours, Second Edition, Sams Publishing, 2002.
10. Tim Penelitian dan Pengembangan Wahana Komputer, Konsep Jaringan Komputer dan Pengembangannya, Salemba Infotek, Jakarta 2003

Akuntansi manajemen

AKUNTANSI MANAJEMEN: SUATU PERSPEKTIF
1. Organisasi dan tujuan-tujuannya
2. Kebutuhan Manajer akan Informasi
3. Pengertian Akuntansi Manajemen
4. Peran Akuntansi Manajemen
5. Akuntansi Manajemen dalam lingkungan bisnis yang berubah

KLASIFIKASI, KONSEP & TERMINOLOGI  BIAYA
1. Konsep Biaya
2. Klasifikasi Biaya dalam perusahaan Pabrikasi
3. Klasifikasi Biaya dalam perusahaan Dagang
4. Klasifikasi Biaya dalam perusahaan  Jasa

SISTEM JUST-IN TIME (JIT) & SISTEM ACTIVITY BASED COSTING (ABC)
1. Sistem Persediaan JIT
2. Elemen-elemen Kunci sistem JIT
3. Penentuan Harga Pokok Produk – Metode Konvensional
4. Sistem ABC
5. Activity Based Management

PERILAKU BIAYA: ANALISIS DAN PENGGUNAAN
1. Pemicu Biaya
2. Jenis-jenis pola perilaku biaya
3. Estimasi Biaya

PENENTUAN HARGA POKOK VARIABEL
1. Definisi Harga Pokok Variabel
2. Perbandingan Harga Pokok Variabel dengan Harga Pokok Penuh
3. Harga Pokok Variabel dan Evaluasi Kinerja Manajer

PENGANGGARAN
1. Tujuan Penganggaran
2. Manfaat Penganggaran
3. Sistem Penganggaran untuk Operasi Bisnis
4. Penyusunan Master Budget

ANALISIS DIFERENSIAL: BIAYA RELEVAN DAN KEPUTUSAN MANAJEMEN
1. Biaya Relevan
2. Biaya Terbenam
3. Menyewakan atau Menjual
4. Pesanan Penjualan Khusus
5. Penambahan atau Penghapusan Lini Produk
6. Menjual atau Memproses Lebih Lanjut
7. Membuat atau Membeli

PENGANGGARAN MODAL
1. Definisi Penganggaran Modal
2. Model Tanpa Pendiskontoan Arus Kas
3. Arus Kas Diskontoan
4. Perluasan Model NPV
5. Pertimbangan Kualitatif dalam analisis investasi modal

BALANCED SCORECARD
1. Konsep Balance Scorecard
2. Sejarah Balance Scorecard
3. Perkembangan terkini implementasi Balance Scorecard
4. Keunggulan Balance Scorecard
5. Faktor yang memacu perusahaan meng-implementasikan Balance Scorecard
6. Perubahan lingkungan bisnis menuntuk perubahan tipe perencanaan yang  digunakan oleh Organisasi
7. Konsep   Manajemen Strategik
8. Beda Manajemen Strategik dalam manajemen tradisional dengan Manajemen Strategik dalam manajemen kontemporer.
9. Balance Scorecard sebagai Inti Sistem Manajemen Strategik.
10. Keunggulan Balance Scorecard


DAFTAR BUKU REFERENSI YANG DIGUNAKAN:
1. Ray H. Garrison, 2000. Managerial Accounting: Concepts for Planning, Control, & Decision Making, Boston: Irwin.
2. Ray H. Garrison, 2000. Akuntansi Manajemen, Yogyakarta: AK Group.
3. Henry Simamora, 1999.   Akuntansi Manajemen,  Jakarta: Salemba Empat.
4. RA. Supriyono, 2002. Akuntansi Biaya & Akuntansi Manajemen untuk Teknologi Maju dan Globalisasi. Yogyakarta : BPFE
5. Mulyadi, 1997, Akuntansi Manajemen: Konsep, Manfaat dan Rekayasa, Yogyakarta : STIE YKPN.
6. Sudarto, 1996. Akuntansi Manajemen,  Jakarta : Gunadarma.
7. Mulyadi, 2001, Balanced Scorecard: Alat Manajemen Kontemporer untuk Pelipatganda Kinerja Keuangan Perusahaan,  Jakarta: Salemba Empat.